Jangan Bersedih Selama Anda Beriman Kepada Allah

Keimanan adalah rahasia di balik kerelaan, ketenangan dan rasa aman. Sebaliknya, kebingungan dan kesengsaraan selalu mengiringi kekufuran dan keraguan.

Sering saya melihat orang-orang pandai bahkan jenius yang jiwa mereka hampa dari cahaya risalah. Sehingga pernyataan-pernyataan mereka terhadap hal-hal yang berhubungan dengan syariat sangat menyakitkan.

Pendapat Abul A’la al- Ma’arri tentang syariah:
”(Semua yang ada
hanyalah) pertentangan, dan kita hanya bisa diam.”

Sedangkan pendapat ar-Razi:
”Puncak dari keberanian akal adalah keterbelengguan.”

Al-Juwaini mengatakan,
“Dia tidak tahu dimana Allah berada: Al-Hamdani telah membuatku bingung, Al-Hamdani membuatku bingung, al-Hamdani membuatku bingung.”

Elia Abu Madhi berkata,
“Aku tak tahu dari mana aku datang, tapi aku datang. Kulihat jejak-jejak membentuk jalan, lalu aku pun berjalan.”

Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan lain yang memiliki makna serupa. Banyak pula ungkapan kata dengan kadar kedekatan dan kejauhan yang berbeda terhadap kebenaran.

Saya menjadi tahu bahwa dengan keimanan, manusia akan dapat menggapai bahagia. Sebaliknya, dengan kebingungan dan keraguannya dia menjadi sengsara.

Ungkapan-ungkapan berikut sama artinya dengan yang telah disebutkan di atas. Yakni kata-kata sombong yang diucapkan oleh Fir’aun, si pelaku dosa besar:
“Aku tidak mengetahui Rabb bagimu selain Aku.” (QS. Al-Qashash:38),

Seraya berkata:
“Akulah Rabb-mu yang paling tingi.” (QS. An-Naziat:24).

Sungguh, sebuah kekufuran yang memporak-porandakan dunia.

James Allen, penulis buku How Man Thinks,
mengatakan,
“Manusia akan tahu bahwa setiap kali dia mengubah cara pandangnya terhadap sesuatu dan orang lain, maka sesuatu dan orang lain itu akan berubah sikap terhadap dirinya…

Biarkanlah orang akan
mengubah cara berpikirnya dan kita akan terperanjat, betapa cepat kehidupan materialnya berubah.

Sesuatu yang sakral untuk membentuk tujuan kita adalah diri kita sendiri.”

Tentang pemikiran yang salah dan pengaruh yang ditimbulkannya.

Allah berfirman,
“Tetapi mereka menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin tidak sekali-kali akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan syaitan telah menjadikan kamu memandang baik dalam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa”. [QS.Al-Fath:12]

“Mereka menyangka dengan sangkaan yang tidak benar kepada Allah seperti sangkaan orang-orang jahiliyah”. [QS. Ali-Imron:154]

Kembali James Allen,
”Semua yang telah direalisasikan oleh manusia tak lain merupakan hasil langsung dari pemikiran-pemikiran pribadinya. Manusia mampu bangkit, menang dan meraih tujuan-tujuan hidupnya dengan pikirannya. Dia akan senantiasa lemah dan celaka jika menolak untuk memahami ini semua.”

Allah berfirman tentang tekad yang kuat dan pemikiran yang benar,
“Dan, jika mereka mau berangkat, tentulah mereka akan
menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan
mereka”. [QS. At-Taubah:40]

Dalam firman-Nya yang lain,
“Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah akan menjadikan mereka mendengar”. [QS. Al- Anfal:23]

“Maka Allah mengetahui apa yang ada di hati mereka, lalu dia turunkan ketenangan atas mereka”. [QS.
Al-Fath:18]

Pos ini dipublikasikan di Islam dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s